BINTANG di Desa Sali-Sali, BINTANG kali ini saya diamanahkan sebagai DANSIPUR (Komandan Seksi Dapur) setelah BINTANG tahun lalu dimanahkan jadi Ketua Panitia di Desa Basseang.
H+1 Kegiatan kami tiba di Desa Sali-Sali pukul 18.30 WITA langsung menuju ke dapur umum tepatnya dipelataran masjid, uhhh baru tiba rasanya sudah terharu sekali melihat ibu-ibu di dapur menyambut senyum hangat dan masakan menu yang sederhana tapi aromanya begitu semerbak, aroma sayur nangka, mie kuah, sambel yang masih berasap membuat perut tidak sabar ingin mencicipinya, juga penampakan air minum yang begitu cantik warnanya. Melihat ibu-ibu di dapur sibuk menyiapkan kami santapan makan malam feelnya sudah sangat terasa dengan dapur yang menggunakan tungku, sesekali berasap karena api yang susah nyala tapi tidak mengurangi nafsu makan para relawan yang sudah kecapean sepanjang perjalanan
H+2 Kegiatan, saya bangun tepat pukul 04.00 WITA alarm peringatan waktu masjid berbunyi, setelah sholat dan bersih-bersih saya turun ke dapur untuk prepare membuat nasi goreng, pukul 05.00 WITA saya mulai meracik nasi putih yang telah dimasak oleh ibu-ibu malamnya, kondisi dapur yang masih sangat sepi tanpa ada kakak-kakak relawan yang lain tidak membuat semangat saya goyah untuk membuat nasi goreng terspesial untuk kakak-kakak relawan dan warga setempat.
Beberapa menit kemudian akhirnya satu persatu kakak relawan datang membantu, ada kak Miny yang sepagi itu turun menawarkan bantuan untuk membuat telur dadar lalu menyusul kak Nunu membantu memotong bawang daun dan daun seledri. Pukul 5:58 WITA kondisi dapur sudah mulai ramai ada kak Reni, kak Lely membantu meratakan nasi yang bergerindil, kak Nana, kak Rasma, menggoreng krupuk, hari ini menjadi hari pertama kalinya saya membuat nasi goreng sebanyak 2 saringan full. Sempat merasa apa iya ini akan enak dengan porsi yang sangat banyak.
Pukul 6:15 WITA perjuangan mengaduk nasi goreng dimulai, menggunakan tungku yang terbuat dari batu bata yang disusun rapih keatas dan api yang sulit menyala karena kondisi kayu bakar yang basah megundang asap yang membuat air mata terus-terusan mengalir, nasi goreng sebanyak 2 saringan pun tergoreng dengan 4 kali tahap penggorengan sesekali bergantian mengaduk saya dan kak Indah, dapurpun mulai rame dengan ibu-ibu yang membantu memasak air minum seppang. Pukul 07.20 WITA sarapan pagi Nasi Goreng, Telur dadar dan Rumput Laut Gimbori pun siap, relawan mulai bergantian sarapan bersama warga sekitar.
Pukul 10.04 WITA setelah mandi dan bersih-bersih sayapun lanjut ke dapur memasak untuk makan siang, menu hari ini yaitu sambala pepaya muda yang dikasih oleh warga, telur balado, telur dadar dan sambal terasi, proses pembuatan sambala yang begitu lama dan menguras air mata karena api yang sulit menyala, membuat pakaian bau asap sampai ke dalam-dalam, pembuatan sambala pepaya memakan waktu 2 jam lamanya. Pukul 12.50 WITA ba’da sholat jum’at makan siang sudah siap di santap, kakak relawan beserta wargapun makan siang dengan cuaca lumayan dingin karena habis hujan, pukul 13.49 WITA saya dan timwork di dapur melanjutkan masak memasak untuk persiapan makan malam, salut sekali dengan ibu-ibu yang banyak membantu dalam persiapan bahan masakan, mereka begitu kompak dan ikut satu komando arghhh mewek rasanya baru kali ini terjun langsung sama mereka dan mereka setulus itu tidak kenal capek kesana kemari bolak balik kerumah masing-masing untuk meminjam beberapa alat masak yang tidak tersedia.
Jam masjid kembali berbunyi menandakan pukul 15.00 WITA masakan terong balado pun selesai dilanjutkan dengan persiapan bahan-bahan kapurung, mulai dari masak ikan kuah kuning, sambal patikala, sayur kelor dan terong, kemudian menggoreng ikan untuk lauk makan malam dan pembuatan bakwan di cuaca dingin-dingin sangat pas yang tentunya menggunakan tepung bakwan mamasuka.
Pukul 18.30 WITA Waktu yang paling menengangkan pun datang yaitu waktu penyiraman sagu untuk kapurung, dimulai dari melarutkan sagu kedalam beberapa baskom karena porsi yang dibuat bukan porsi biasa melainkan porsi sekampung. Penyiraman sagupun dimulai mengikuti arahan dari kak Rani selaku warga Palopo yang khatam dengan penyiraman sagu tetapi ternyata setelah penyiraman sagu pertama terjadi sedikit kendala karena keragu-raguan dalam penambahan air dan yang terjadi sagu di baskom pertama mengalami kelembekan dan tidak bisa di dui atau di bentuk bulat, lanjut penyiraman kedua metode dari saya dan alhamdulillah baskom kedua berhasil bisa dilanjutkan untuk di dui, keriwehan di dapur mulai terasa dengan berbagai macam persepsi dan metode penyiraman sagu yang berbeda-beda. Masih tentang penyiraman sagu ibu dusun juga ikut memberikan metode yang berbeda dan alhasil sagunya mentah kemudian dilanjutkan dengan pengadukan diatas kompor, stok sagu dari kak Dinda pun habis terpakai, Kak Rani pun Kembali menyiram sagu menggunakan sagu yang dibawah sendiri dari rumah, hasil sagunya pun juga kelembekan tetapi tetap di dui karena menurutnya ini matang yang sempurna. Kemudian muncul lah kak Dinda yang merasa kecewa dengan hasil sagu yang dibawahnya tidak begitu sempurna, lalu kak Dinda tetap ingin membutktikan dengan menggunakan tepung tapioka tetapi tidak jadi karena faktor air panas yang kurang memadai di dapur.
Setelah drama penyiraman sagu, saya melanjutkan pencampuran bahan-bahan kapurung berupa sagu yang telah di dui, berbagai sayuran seperti jagung, terong dan daun kelor, ikan yang sudah di suwir-suwir dan dipisahkan tulangnya. Kapurung pun jadi dengan porsi besar kemudian makan malam pun di mulai, sempat tegang karena kondisi lauk di malam itu hanya ada beberapa ikan goreng, terong balado, sementara kakak-kakak yang makan awalnya kebanyakan makan nasi, merasa takut kalau lauknya kurang dan orang-orang tidak semua suka dengan kapurung, satu persatu kakak-kakak mencoba makan kapurung Masolo dan melihat respon dari kakak-kakak alhamdulillah sangat puas huaaa tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata setiap ada yang memuji kalau kapurungnya enak dan rasa ingin tambah, tetapi diiringi dengan keluhan kepedisan dengan sambal kecombrang full cabe, ngakak dengan ekspresi kakak-kakak yang bibirnya jadi dower setelah makan kapurung “Pedis Tapi Enak Jadi Tambah Terus” utukutukutuk
Setelah makan malam kami melanjutkan briefing dan salah satu kendala di dapur itu kami kekurangan banyak bahan makanan sementara untuk di hari Sabtu kami harus memasak 2 kali lipat dari porsi sebelumnya karena ada tambahan dari adik-adik kita peserta camping dan juga guru-guru yang ikut kelas guru, jadi Kembali putar otak bagaimana menyiapkan menu yang enak untuk besok dimakan rame-rame, saya pun ke bendahara kak Yaya dan diskusi bersama tim dapur kak Nunu dan kak Indah juga ada kak Fajar, mulai mencari Solusi dengan belanja kembali ke pasar, setelah mencatat kebutuhan bahan dapur kami pun menkonfirmasi dengan kak Ihsan selaku tokoh pemuda di desa yang sangat bisa diandalkan, alhamdulillah solusinya yaitu akan ada warga yang bantu turun belanja kebutuhan serta air minum untuk adik-adik camping ceria karena apabila mengandalkan air seppang yang dimasak ibu-ibu sepertinya akan sulit tercukupi dengan kondisi dapur yang kesulitan kayu bakar.
Setelah briefing kapurung yang dibuat porsi besar ini ternyata masih tersisah banyak, sedikit khawatir dan merasa kecewa karena tidak habis tapi setelah beberapa menit kakak-kakak dan warga pun kembali makan dan menghabiskan kapurung dan menu lainnya, sedikit lebih tenang lagi untuk hari ini.
Hari + 3 saya Kembali terbangun di pukul 4.00 bersih-bersih sholat kemudian turun ke dapur, lagi dan lagi kondisi dapur yang sangat sepi, menu sarapan hari ini yaitu nasi goreng kampung + telur dadar, saya mulai meracik nasi goreng, dibantu kakak Miny tim dokumentasi tapi selalu standby setiap subuh di dapur membantu membuat sarapan, kak Miny kuarahkan membuat telur dadar iris tipis untuk kondimen nasi goreng kampung.
Pukul 05.30 WITA saya lanjut menggoreng nasi sebanyak 2 saringan, kondisi dapur yang sudah mulai rame dengan adanya kak Nunu yang mengiris telur dadar, bahkan ada kak Ical yang ikut membantu tim dapur, kak Dijah, kak Sri, kak Nurul, kak Nana, kak Fika membantu mengupas bawang merah. Pukul 6.30 WITA sarapan pagi selesai dan kakak-kakak kembali sarapan Nasi Goreng Kampung With Macaroni Gimbori. Pagi ini kami akan melakukan Upacara Hari Pendidikan Nasional tapi sebelum itu saya sudah mengarahkan ibu-ibu untuk masak nasi sebanyak 20 liter, serta memasak sayur tuttu daun ubi yang dipetik langsung dari beberapa lahan ibu-ibu setempat.
Pagi itu saya meninggalkan kegiatan di dapur saya ke lapangan bermain bersama adik-adik kita peserta camping ceria, sambil menunggu peserta upacara dan moment terbahagia di hari itu ialah saya melihat teman sekolah saya 10 tahun yang lalu datang ke sekolah bersama rombongan guru-guru lainnya, sontak langsung histeris lari memeluk lompat sambil tertawa bahagia tidak nyangka akan ketemu di hari ini sahabat yang selama ini hilang kabar bertahun-tahun kemudian kami bertemu Kembali di desa Sali-Sali. Salah satu hal yang ku nantikan akhirnya terwujud. Perasaan sumringah dan sangat bahagia dihari itu sangat mempengaruhi semangat untuk melakukan yang terbaik di dapur.
Pukul 10.00 WITA Upacara selesai dan saya kembali ke dapur untuk persiapan makan siang, menu hari ini agak lumayan banyak yaitu, ebi sambal tomat, tahu+terong Balado, sayur tuttu daun ubi, ikan kering geprek, telur dadar, sayur daun kelor. Setelah adik-adik kita makan siang dilanjutkan dengan guru-guru serta relawan dan warga setempat, suatu hal yang paling tidak terduga lagi yaitu setelah sahabatku melihat menu makanan hari ini yaitu ebi sambal tomat dan terong balado ini adalah menu bekal andalanku di waktu sekolah kemudian sahabatku menyampaikan “Tidak berubah masakanmu weh masih enak seperti dulu” utukutukutuk disitu perasaanku memuncak sangat bahagia mendengar pujian itu dari sahabatku.
Pukul 15.30 WITA saya dan kak Nunu memutuskan untuk keluar dari dapur ikut kegiatan lomba Volly melawan tim lokal atau akamsi tapi sebelum ke lapangan kami mampir ke SD Lokasi camping ceria, duduk dikursi depan sekolah sambil melihat pemandangan indahnya desa Sali-Sali, rasanya syahdu sekali ketenangan di desa ini tapi saya tiba-tiba kepikiran sesuatu dan seketika merasa terharu ingin rasanya menumpahkan air mata saat itu juga tapi tiba-tiba kak Fathur memasang kamera dan bermaksud memfoto buyar perasaan sedih jadi tawa hahahaah jadi deh foto candid serasa sangat bahagia.
Pukul 18.00 WITA kami dan tim dapur melanjutkan masak memasak untuk makan malam, menu malam ini yaitu perkedel jagung, mie goreng, bakwan, ikan goreng, sayur tuttu, telur dadar, telur balado dan tak terlupakan sambel terasi yang pedis nikmat. Pukul 20.00 WITA makan malam pun dimulai dari adik-adik camping ceria dilanjutkan dengan kakak-kakak relawan, guru serta warga setempat. Kegiatan selanjutnya yaitu pentas seni dan penerbangan lampion. Kegiatan malam inipun selesai dengan lancar juga sangat terhibur dengan semua penampilan khusunya penampilan dari adik-adik kita dan penampilan pemuda desa.
Pukul 00:20 WITA kami melanjutkan briefing bersama kakak-kakak relawan setelah evaluasi dari berbagai kegiatan hari ini, kemudian terakhir dilanjutkan evaluasi tentang tim Dapur hal yang tidak pernah kusangka lagi dan lagi ketua panitia beserta kakak-kakak relawan mengapresiasi tim dapur dan memuji sangat puas dengan menu yang tersedia setiap hari, rasanya Bahagia sekali tapi juga jadi tantangan terbesar bagaimana bisa menu terakhir tetap enak dan nikmat apalagi menu besok itu nasi kuning, menu yang baru kali kedua kumasak selama hidupku.
Briefing selesai dan saya Kembali ke dapur untuk melanjutkan menggoreng ayam dan memasak nasi kuning tetapi ternyata di dapur sudah kosong tidak ada orang satupun ibu-ibu yang menunggu karena sudah larut malam, saya kembali kerumah dan istirahat di pukul 03.00 WITA dan bangun Kembali di pukul 04:00 WITA saya langsung ke dapur yang kosong sama sekali tidak ada orang, panik harus mulai dari mana, sementara ada banyak orang yang harus makan hasil dari dapur ini, saya mulai dengan menggoreng ayam tapi rasanya tidak yakin ini bisa selesai cepat karena porsinya yang banyak, sambil menggoreng ayam adzan pun berkumandan saya lanjut sholat sebentar dan ku titip ayam goreng ke kak Nana yang ada saat itu, selesai sholat ibu-ibu yang biasa membantu di dapur tiba dan saya merasa legah, mulai menyalakan tungku dan meracik santan nasi kuning, satu persatu bahan aromatik saya turunkan seperti sereh, daun salam, daun jeruk dan kunyit ke dalam wajan yang cukup besar, ini kali pertamaku membuat nasi kuning sebanyak ini sedikit tidak pede karena dari dulu kak Ical selalu membahas nasi kuning buatan kak Juju itu the best di BINTANG Kaseralau, tapi kali itu saya tetap berusaha untuk buat nasi kuning yang enak, belum selesai nasi kuning di aduk satu persatu bahan dapur habis seperti minyak, gas, bendahara kak Yaya tidak muncul entah mau bagaimana, ibu-ibu dapur pun gercep untuk pergi membeli minyak dan gas untuk menggoreng ayam 3 baskom full. Sembari mengukus nasi kuning saya pun melanjutkan membuat saos ayam goreng yang awalnya mau diracik nasu kecap jadinya ayam saos entah saos apa, karena semua menggunakan bahan yang tersisah di dapur seperti gula merah, saos tomat, cabe bubuk dll. Sempat panik lagi karena setelah saya icip rasanya sudah enak tapi salah satu ibu disana ibu Ita namanya katanya ayamnya ada sensasi pedisnya sedikit, huaa sementara menu ini untuk adik-adik camping.
Pukul 08.00 WITA menu sarapan Nasi Kuning dan lauk-lauknya sudah tersedia, Kami pun tim dapur mulai membagikan kepada adik-adik camping ceria. Kemudian kakak-kakak relawan, guru-guru dan warga setempat mulai mencicipi nasi kuning yang tersedia, satu persatu menaggapi dengan kata “Enak Kak Nasi Kuning ta” dan di approve oleh kakak Dokter Rahim “Btw Sejauh ini yang saya rasa nah, yang saya nilai ji ini kayaknya inimi yang paling enak makanannya selama BINTANG, tapi saya rasa masih ini yang lebih enak” ditambahkan lagi oleh kakak Dokter Ifa “ Enak memang Enak Mantap Jadi Dapur Sudah Terkontrol” Huaaaaa melayang-layang perasaan ku saat itu juga, legah sekali rasanya di tambah ibu-ibu dapur dan cewek-cewek yang ikut bantu masak meminta resep ayam saos sontak bikin hah resep perasaan itu hasil campur mencampur saja tapi mereka minta resepnya. Tidak lama setelah itu panik kembali karena kakak-kakak masih ada yang belum makan tapi nasi kuning kloter pertama sudah habis, disambung dengan nasi putih sambil menunggu nasi kuning kloter kedua selesai di kukus. Belum selesai semua relawan sarapan nasi kuning, tim dapur melanjutkan masak untuk makan siang, Nasu Palekko by kak Indah dan sayur tumis sawi putih by ibu-ibu.
Pukul 12.52 WITA Selesai pembagian donasi tas dll untuk adik camping di dan peresmian rumah ceria kakak-kakak relawan kembali ke Masjid untuk menyantap makan siang untuk terakhir kalinya bersama warga setempat. Terharu sekali rasanya harus meninggalkan dapur dan ibu-ibu yang membersamai selalu dalam beberapa hari, kami ingin kembalipun mereka masih sibuk menyiapkan ole-ole untuk kami bawa pulang ke kota ada yang memberikan patikala, bunga patikala, anakan patikala dari kakak Hijrah salah satu teman Perangkat Desa saya di Desa itu, kemiri, kayu secam, pisang, cabe dll. sehat-sehat untuk semua warga desa Sali-Sali semoga ada waktu dan kesempatan lain kita semua bisa bertemu kembali.
Setelah berpamit-pamitan dengan warga desa Sali-Sali satu persatu dari kami pun kembali ke kota menggunakan mobil dan motor. Drama perjalanan pulang yang disertai hujan lebat tidak mengurangi semangat kami untuk bertemu keluarga, kami yang pulang menggunakan motor belum jauh dari lokasi kegiatan sudah di guyur hujan dan beruntungnya kami bisa berteduh di rumah salah satu warga dan disuguhi Kopi lokal Sali-Sali menggunakan gula aren, kami pun menikmati sambil bercerita bersama kak Fatur, kak Fajar, Kak Imbran, kak Anas, kak Agus, kak Fandi, Kak Kires, kak Dayah, kak Sahar. Pukul 17.45 WITA kami dan para relawan berkumpul Kembali di kafe exotico makan malam dengan menu Palekko bebek sambil bercerita bercanda dari pengalaman masing-masing sebelum satu persatu pamit pulang. Perasaan saat di Exotico rasanya sangat haru ’’Apa Iya Episode Bintang Kali ini Sudah Selesai, rasanya tidak ingin mengakhiri malam ini yang disertai hujan tapi mau tidak mau semua selesai di malam ini juga, Pukul 21.30 WITA kondisi Exotico saat itu sudah mulai sepi kakak-kakak sudah pulang kerumah masing-masing dan setelah saya mengantar Kak Arni pulang kerumahnya saya juga bergegas pulang kerumah.
Sedikit cerita H-1 Minggu kegiatan saya sempat malu untuk bergabung kumbang Karena sebelumnya ada satu dan lain hal sehingga saya sama sekali tidak bisa bantu banyak seperti mengumpulkan donasi, share bahkan untuk ikut kumbang juga terbatas dan sempat bertanya ke kak Wana “Kak Masih ada ji gah bisa ku bantukan ki” Kak Wana Menjawab “Banyak Kak” kemudian saya mulai ikut kumbang dan diberi amanah sebagai DANSIPUR.
Kebahagiaan tersendiri untuk saya setelah diamanahkan untuk memegang komsumsi walaupun disatu sisih setiap hari saya harus ketinggalan banyak moment di setiap kegiatan yang berlangsung, berusaha menguatkan diri untuk memberikan yang terbaik agar kakak-kakak relawan senang dengan semua masakan yang saya sajikan. Sering sekali saya sampaikan ke kakak-kakak tim dokumentasi Kak Fika, kak Fatur, Kak Mini, kak Kinah “kakak mauka juga di foto di video” arghhh saya sipaling dokumentasi ini harus berada di dapur lebih lama walaupun semua itu terpenuhi dengan saya inisiatif sendiri merekam semua kegiatan yang ada di dapur selama kegiatan, mengabadikan momen bersama ibu-ibu, kakak relawan, gadis-gadis desa yang membantu di dapur, Ratusan dokumentasi terjadi di dapur selama empat hari kegiatan dan bingung mau edit dari mana setiap melihat dokumentasi selalu terngiang muka ibu-ibu yang ada disana uhhhh serasa merindukan ibu sendiri.
Saya selalu merasa kurang kontribusi di BINTANG kali ini karena satu dan lain hal, Saya selalu insecure sedih dengan semua cerita-cerita seruh kakak relawan di setiap harinya, melihat semua dokumentasi kakak-kakak di group maupun di story, melihat semua profesi keren yang saling kompak bekerjasama demi berhasilnya kegiatan ini. TAPI Saya selalu dikuatkan dan diingatkan sama salah satu partner masak kak Nunu ku tersayang ” SEMANGAT KI KAK” Kita bagian dari mereka semua, apa jadinya kalau tidak ada ki?mereka semua senang dengan masakan ta sampe nambah berkali-kali “kita kesana membantu oranglain dengan suka rela saja itu sudah tercatat pahala ta Insya Allah, tidak perlu validasi oranglain yang penting mereka terbantu dengan adanya Kita, Allah lihat usaha ta Kak”
Peluk Sayang untuk Kak Nunu dan semua kakak-kakak relawan baik hati yang selalu support DANSIPUR (Komandan Seksi Dapur) yang super duper cengeng ini.
Sehat-sehat ki semua, Panjang Umur Hal Baik
TERIMAKASIH SEBESAR-BESARNYA untuk BINTANG dan semua orang-orang baik yang kutemui selama kegiatan
SEKIAN.... Mari bertemu dikesempatan lainnya tapi ketemu di Masolo sambil buat acara juga sangat boleh, Ditunggu kakak-kakak
