Artikel

Sali-Sali: Tempat Hati Belajar Bersyukur

Mei 05, 2026
Sali-Sali: Tempat Hati Belajar Bersyukur

Bintang kali ini benar-benar menghangatkan hatiku.
Betapa tidak, aku yang terbiasa menahan air mata di hadapan banyak orang, justru kali ini membiarkannya jatuh berlinang—bahkan tumpah ruah tanpa sedikit pun perlindungan dari rasa malu.

Hari ini, Senin, 4 Mei 2026, ragaku telah kembali ke rutinitas. Aku duduk di ruang kantor, mengikuti meeting awal bulan seperti biasa. Namun, hatiku masih tertinggal di sebuah desa kecil dengan bentang alam yang memanjakan mata dan atmosfer masyarakat yang penuh rasa syukur kepada Sang Maha Kuasa: Desa Sali-Sali.

Tulisan ini lahir dari hati yang tulus, dengan air mata yang masih berderai setiap kali mengingat momen-momen selama di sana.

Ibu yang Menangis di Pentas Seni

Salah satu rangkaian kegiatan Bintang adalah malam puncak penerbangan lampion yang diawali dengan pentas seni dari adik-adik setiap sekolah.

Malam itu, aku duduk beralas terpal di samping Kak Wana, Kak Hera, dan seorang ibu yang kutaksir berusia sekitar lima puluh tahun.

Sepintas, kulihat ibu itu mengusap air mata ketika seorang anak tampil menyanyi dan mendapatkan banyak apresiasi dari penonton. Sebagai seseorang yang terbiasa menenangkan lewat sentuhan, aku refleks mengusap punggungnya sambil tersenyum ramah.

Dalam benakku terlintas, mungkin ia sedang haru dan bangga melihat anaknya tampil di panggung Bintang 2026.

Beberapa menit berlalu. Tanpa sengaja, aku kembali melihat matanya—masih basah dan sembab. Kali ini, aku memberanikan diri untuk bertanya.

Ia tidak langsung menjawab. Hanya air mata yang semakin mengalir, sementara senyum ramah tetap terukir di bibirnya. Aku kembali mengusap punggungnya, memberi isyarat bahwa tidak apa-apa jika ia belum ingin bercerita.

Tak lama kemudian, ia mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berbisik pelan,
“Bersyukurka ada acara begini di kampung.”

Kalimat sederhana itu menembus hatiku lebih dalam dari yang bisa kujelaskan.

Bapak dengan Senyuman yang Selalu Menyapa

Dalam kegiatan peduli desa, kami mengadakan berbagai pelatihan, salah satunya penyuluhan pertanian. Seperti biasa, aku membuka dengan memperkenalkan diri sebagai Kak Wana dan menjelaskan bahwa di Sahabat KITA semua saling memanggil “kakak”, tanpa memandang usia.

Di antara peserta, ada seorang bapak yang begitu mencuri perhatian. Tingkahnya hangat, penuh semangat, dan paling antusias di antara bapak-bapak serta pemuda lainnya yang masih tampak malu-malu. Ia aktif berbagi pengalaman sepanjang kegiatan.

Sejak itu, setiap kali berpapasan, ia selalu menyapaku dengan panggilan “Kak Wana”—padahal usianya kutaksir sudah sekitar enam puluh tahun.

Senyum khasnya begitu membekas. Meski giginya sudah tidak lengkap di bagian depan, senyum itu tetap mengembang hangat setiap kali menyapa.

Di dapur, di tempat makan, di pelataran wudhu, bahkan saat berpapasan sepulang dari masjid, sapaan itu selalu sama,
“Hai Kak Wana.”
Dan aku pun menjawab,
“Halo, Pak.”

Suatu kali, ia berkata dengan bangga,
“Saya sudah hafal bintang-bintang.”

Aku langsung paham—yang ia maksud adalah yel-yel Bintang.

Ah, Pak… sederhana, tapi begitu membahagiakan.

Alif yang Baik Hati

Aku mengenal Alif sejak survei persiapan sebelum kegiatan dimulai. Ia membantu kami menyiapkan panggung dan berbagai kebutuhan lainnya.

Sejak hari pertama hingga kepulangan kami, Alif tak pernah berhenti membantu. Ia bahkan ikut mengantarkan kami hingga Dusun Mariri, tempat mobil jemputan menunggu.

Ia adalah sosok pemuda yang bekerja tanpa lelah, tanpa mengeluh, dan tanpa banyak bicara.

Di hari terakhir, kami biasanya membagikan kaos Bintang kepada warga yang turut membantu. Namun saat itu terjadi kekeliruan—jumlah kaos tidak mencukupi jika Alif juga mendapatkannya, padahal kontribusinya begitu besar.

Akhirnya, kami sepakat memberikan kaos relawan yang tidak hadir untuknya.

Saat kuberikan kaos itu, ia menerimanya dengan ragu. Matanya mulai berkaca-kaca, lalu ia bertanya dengan sangat sopan,
“Tidak apa-apa ji ini, Kak… saya pakai baju begini juga?”

Aku hanya tersenyum.

Ia segera mengenakan kaos itu dengan penuh bangga. Samar-samar kudengar ia memanggilku dan mengucapkan terima kasih. Namun aku tidak menoleh—bukan karena tak peduli, melainkan karena aku tak lagi mampu menahan air mata yang sejak tadi memenuhi pelupuk.

Melihatnya mengenakan kaos itu kembali meyakinkanku:
terkadang, hal sederhana memiliki nilai yang tak terhingga ketika dimaknai dengan rasa syukur.

Bintang kali ini bukan sekadar kegiatan.

Ia adalah pertemuan dengan ketulusan yang jarang kutemui, pelajaran tentang syukur yang tak banyak diucapkan, namun begitu terasa.

Di Desa Sali-Sali, aku belajar bahwa kehangatan tidak selalu datang dari hal-hal besar, melainkan dari kebaikan kecil yang dilakukan dengan hati yang tulus.

Aku pulang membawa lebih dari sekadar kenangan.
Aku pulang dengan hati yang penuh, mata yang basah, dan rasa haru yang dalam—atas kebaikan serta keramahan warga Desa Sali-Sali yang begitu sederhana, namun tak akan pernah bisa kulupakan.



Baca Juga