Kamis, 30 April 2026
Kami berkumpul di satu titik di Kota Pinrang—tepatnya di Cafe Exotico. Tempat itu menjadi saksi awal dari perjalanan yang tak sekadar berpindah lokasi, tapi juga tentang perjumpaan dengan alam, dengan orang-orang baru, dan mungkin… dengan versi diri yang berbeda.
Aku, salah satu di antara mereka, larut dalam canda. Menunggu momen keberangkatan dengan tawa yang seolah tak ingin berhenti.
Perjalanan dimulai saat mobil DALMAS datang menyapa. Rombongan pun terbagi menjadi beberapa kelompok. Mobil hitam dengan jendela terbuka itu ternyata belum cukup menampung semangat kami. Kloter pertama pun berangkat lebih dulu.
Di sepanjang perjalanan, tak ada satu detik pun yang benar-benar sunyi. Selalu ada tawa yang pecah, dipantik oleh tingkah laku kocak—terutama dari komedian favoritku, Kak Rasma, dengan jokes legendarisnya: “Pabbura Bassang.”
Memasuki perbatasan Mariri dan Kalolo, kami dihadapkan pada rintangan pertama. Bukan Swiper yang datang mencuri, tapi tanjakan licin yang membuat mobil kesulitan melaju. Hujan sore menambah tantangan, dan akhirnya sopir memutuskan untuk berhenti.
Kami pun turun, melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Justru di situlah, kami menemukan hadiah kecil: alam yang begitu syahdu, dengan kabut sebagai pelengkapnya. Masyaallah, kalau kata Squidward, “Seperti pesona dunia baru.”
Tak lama kemudian, mobil berhasil melewati tanjakan. Perjalanan pun berlanjut—diiringi doa saat jalan licin, dan tawa saat kondisi kembali bersahabat.
Setibanya di Kalolo, perjalanan mobil harus terhenti. Trek yang tidak memungkinkan membuat kami kembali berjalan kaki beberapa kilometer. Beruntung, pemuda Desa Sali-Sali datang silih berganti menjemput dengan motor mereka.
Skill mereka benar-benar tak perlu diragukan.
Aku yang dibonceng hanya bisa mengulang doa berkali-kali, terutama saat ban motor tergelincir di jalanan licin.
Jumat, 1 Mei 2026
Hari dimulai dengan “alarm” dari masjid—pengumuman waktu yang rutin terdengar dan cukup efektif membangunkan kami.
Pagi itu kami menggelar senam bersama di pelataran SDN 304 Pinrang. Adik-adik yang awalnya hanya menonton dari kejauhan, perlahan ikut bergabung. Bahkan beberapa dari mereka dengan percaya diri menjadi instruktur, membakar semangat kami para relawan.
Siang harinya, aku bergabung dengan tim kreatif Rumah Ceria. Di sana, kami berkreasi bersama dalam bidang seni rupa.
Jujur saja, itu bukan bidang yang paling aku nikmati.
Namun, berkat dorongan teman-teman, aku mencoba. Sebuah gambar buku mungil yang kuselesaikan dalam waktu sekitar 30 menit akhirnya jadi. Dan seperti biasa, aku hanya bisa tersenyum malu—mode Anggora aktif—saat mendapat pujian dari teman-teman relawan dan adik-adik Bintang.
Sabtu, 2 Mei 2026
Hari itu peranku mulai terbagi.
Setelah upacara Hari Pendidikan Nasional yang berlangsung begitu syahdu—dengan amanat penuh rasa syukur dari Kak Ikhsan yang bahkan membuat air mata memberontak keluar—aku menjalankan dua peran sekaligus.
Sebagai pendamping Camping Ceria, aku mendampingi adik-adik tim Semangat. Di sisi lain, sebagai PJ Pentas Seni, aku harus berkoordinasi dengan bapak/ibu guru terkait penampilan siswa.
Rasanya ingin sekali punya kemampuan Kage Bunshin seperti Naruto.
Beruntung, partner andalanku, Kak Nurul, selalu siap membackup dan memberiku ruang untuk bergerak. Aku sempat mengikuti kelas inspirasi—agenda pertama Camping Ceria hari itu.
Di sana, kami mendengarkan cerita dari Kak Tifa, CEO Wanda Cake, yang pernah ke Jepang. Sempat terlintas ingin bertanya apakah ia bertemu kru Topi Jerami… tapi aku urungkan. Rasanya, itu bukan pertanyaan yang tepat.
Menjelang pentas seni, kegelisahan mulai muncul.
List penampilan yang awalnya hanya berisi enam item membuat suasana sedikit tegang. Kepanikan pun terasa, apalagi melihat gestur Kak Fara—partner PJ-ku—yang ikut khawatir.
Kami bergerak cepat.
H-1 jam, pendataan ulang dilakukan. Sedikit “mini drama” terjadi, tapi akhirnya kami berhasil mengumpulkan sekitar 15 penampilan.
Namun, tantangan belum selesai.
H-1 menit sebelum dimulai, masalah baru muncul: musik penampil yang katanya sudah siap, ternyata belum tersimpan dengan baik. Pentas seni pun harus tertunda sekitar 30 menit.
Di titik itu, rasa khawatir berubah menjadi luapan emosi.
Aku sadar, dalam situasi itu aku sempat merasa paling benar. Ego yang tak terkendali membuatku tanpa sadar menyakiti partnerku sendiri. Saat itu juga, aku meminta maaf kepada Kak Fara—dengan wajah yang tak lagi bisa menyembunyikan air mata.
Tangis itu kembali pecah saat sesi evaluasi.
Aku ingin meminta maaf dengan lebih baik, tapi kata-kata tak lagi bisa keluar. Yang tersisa hanya tangisan yang akhirnya benar-benar tumpah.
Namun di antara semua itu, ada momen yang tak akan kulupakan.
Kami duduk melingkar bersama adik-adik. Bernyanyi bersama—dari lagu nasional, Sedia Aku Sebelum Hujan, hingga Tor Monifor yang mereka lantunkan dengan penuh semangat.
Suasana menjadi begitu hangat. Begitu hidup. Begitu… membekas.
Terima kasih, BINTANG.
Perjumpaan kedua ini, rasanya tak mengubah sedikit pun “image” yang selama ini ada di kepalaku—justru semakin menguatkannya.
Semoga tahun depan, kita bisa kembali bersua.
Dengan cerita baru, dan mungkin… orang-orang baru yang siap jatuh cinta pada perjalanan yang sama. ✨
