Artikel

Perempuan Desa, Pilar Peradaban: Ketika Relawan dan Ibu-Ibu Desa Sali-Sali Bersatu dalam Semangat Pendidikan dan Kebersamaan

Mei 05, 2026
Perempuan Desa, Pilar Peradaban: Ketika Relawan dan Ibu-Ibu Desa Sali-Sali Bersatu dalam Semangat Pendidikan dan Kebersamaan

Udara pegunungan terasa tipis di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut. Di Desa Sali-Sali, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, hamparan hijau membentang luas, memeluk rumah-rumah panggung kayu yang berdiri sederhana namun kokoh.

Di salah satu halaman rumah itu, tawa pecah.

Ibu-ibu desa duduk berdampingan dengan para relawan muda. Tidak ada jarak. Tidak ada sekat antara “tamu” dan “tuan rumah”. Yang hadir hanyalah percakapan hangat—tentang anak-anak, tentang kehidupan, dan tentang harapan yang terus mereka jaga.

Momen itu menjadi bagian dari kegiatan Bintang Goes to Sali-Sali oleh komunitas Sahabat Kita, yang berlangsung pada 30 April hingga 3 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional.

Namun di tempat ini, pendidikan tidak hadir dalam bentuk upacara.
Ia hidup dalam kebersamaan.

Perempuan, Akar Peradaban

Sebuah pepatah lama kembali menemukan maknanya di tempat ini:

“Didiklah seorang laki-laki, maka kau mendidik seorang individu. Didiklah seorang perempuan, maka kau mendidik sebuah peradaban.”

Kalimat itu bukan sekadar kutipan. Ia terasa nyata di Sali-Sali—di wajah para ibu yang setiap hari menjadi sekolah pertama bagi anak-anak mereka.

Cara mereka berbicara, mendengarkan, dan merespons, membentuk karakter anak jauh sebelum pendidikan formal mengambil peran.

Di balik kesederhanaan, ada kekuatan yang bekerja diam-diam.

“Emansipasi tanpa batas bukan kebebasan tanpa batas, melainkan kebebasan untuk tumbuh, untuk belajar, dan untuk memberi.”
— R.A. Kartini

Kehangatan yang Terekam dalam Satu Momen

Dalam dokumentasi kegiatan, tergambar lebih dari sekadar foto.

Ibu-ibu dengan pakaian sederhana, anak-anak kecil yang ikut hadir, serta latar rumah panggung dan pepohonan hijau—semuanya menyatu dalam suasana yang hangat dan akrab.

Tidak ada kecanggungan.
Tidak ada formalitas berlebihan.

Yang terlihat adalah persaudaraan yang tulus.

Di tempat seperti inilah kehidupan berjalan apa adanya—jauh dari hiruk pikuk kota, namun menyimpan kekuatan yang sering kali luput dari perhatian.

Menguatkan Ibu, Menguatkan Generasi

Program ini tidak hanya berfokus pada anak-anak.

Secara alami, perhatian juga tertuju pada para ibu. Karena satu hal yang disadari bersama:
untuk mengubah masa depan anak, ibu harus lebih dulu dikuatkan.

Di Sali-Sali, tidak semua ibu memiliki akses pendidikan formal yang memadai. Namun mereka memiliki cinta yang besar dan keinginan kuat agar anak-anak mereka memiliki kehidupan yang lebih baik.

Relawan hadir bukan untuk menggantikan peran mereka, tetapi untuk mendampingi—membangun kepercayaan diri, membuka wawasan, dan memperkuat peran yang selama ini sudah mereka jalankan.

Di Tengah Keterbatasan, Tumbuh Ketangguhan

Desa Sali-Sali berada di antara perbukitan hijau dengan mayoritas penduduk bekerja sebagai petani.

Di tengah keterbatasan ekonomi dan akses, para ibu menjalankan peran ganda—mengurus rumah, mendampingi anak, sekaligus membantu kebutuhan keluarga.

Namun tantangan tetap nyata:

  • Akses informasi yang terbatas
  • Infrastruktur yang belum memadai
  • Jarak ke layanan pendidikan dan kesehatan
  • Kepercayaan diri yang masih perlu diperkuat

Meski begitu, kekuatan mereka tidak pernah surut.

“Di desa ini, setiap ibu adalah seorang guru. Setiap rumah adalah sebuah sekolah. Setiap hari adalah pelajaran tentang ketangguhan.”

Hadir, Bukan Sekadar Berkunjung

Ada perbedaan besar antara datang dan benar-benar hadir.

Relawan Sahabat Kita memilih untuk hadir—tanpa sekat, tanpa jarak.

Mereka duduk bersama, berbincang, dan berbagi dalam suasana yang setara. Tidak ada posisi lebih tinggi atau lebih rendah.

“Belajar bersama” menjadi pendekatan yang terasa nyata di setiap interaksi.

Bagi para relawan, pengalaman ini menjadi ruang refleksi yang mendalam.

“Kamu tidak perlu menjadi besar untuk memulai, tapi kamu harus memulai untuk menjadi besar. Para relawan di Sali-Sali telah memulai dan semoga saja dampaknya akan terus bergema jauh ke depan.”
— Inspirasi Sahabat Kita (by Dinda)

Suara yang Lahir dari Harapan

Hari Pendidikan Nasional di Sali-Sali tidak dipenuhi seremoni. Ia hadir dalam percakapan sederhana yang penuh makna.

Dari para ibu, terdengar suara yang jujur:

“Senang sekali ada orang yang mau datang kemari, mau duduk bersama kami, mau mendengarkan cerita kami. Kami merasa tidak dilupakan.”
— Seorang Ibu Warga Desa Sali-Sali

“Saya ingin anak-anak saya bisa sekolah tinggi, walaupun kami di sini jauh dari kota. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut.”
— Ibu Rumah Tangga, Sali-Sali

Kalimat-kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan kekuatan besar—harapan.

Dan harapan adalah energi yang menggerakkan perubahan.

Ketika Kebersamaan Melampaui Batas

Ada sesuatu yang terjadi ketika dua dunia bertemu dengan kerendahan hati.

Relawan datang membawa ilmu dan semangat.
Warga desa menyambut dengan kehangatan dan ketulusan.

Dalam pertemuan itu, tidak ada yang merasa lebih.
Yang ada hanyalah proses saling belajar.

Momen yang tertangkap kamera bukan sekadar dokumentasi. Ia menjadi saksi dari sebuah ikatan—bahwa kepedulian masih hidup.

Dari Sali-Sali untuk Indonesia

Apa yang terjadi di desa ini mungkin terlihat sederhana. Namun di situlah letak kekuatannya.

Perubahan tidak selalu lahir dari tempat besar.
Ia sering tumbuh dari ruang-ruang kecil yang penuh ketulusan.

Di Sali-Sali, perubahan itu dimulai dari para ibu.

“Perempuan yang terdidik tidak hanya mengubah hidupnya sendiri, ia mengubah hidup semua orang yang ia cintai, dan semua orang yang akan dilahirkan dari cintanya.”
— Inspirasi Hardiknas 2026

Hari Pendidikan Nasional 2026 menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang sekolah, tetapi tentang manusia—tentang mereka yang setiap hari menanam nilai, membangun harapan, dan menjaga masa depan.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026

Dari Perempuan Sali-Sali, untuk Indonesia yang Lebih Berdaya

Bintang Goes to Sali-Sali | Sahabat Kita | Kabupaten Pinrang




Baca Juga