Langkah ini bermula dari keberanian sederhana—mencoba.
Saat informasi audisi Relawan Bintang dibuka, saya melihatnya bukan sekadar kesempatan, melainkan sebuah panggilan untuk terlibat lebih dekat dengan realitas yang sering luput dari perhatian.
Proses seleksi saya jalani dengan penuh harap—mulai dari tahapan awal hingga momen menunggu pengumuman yang terasa begitu menegangkan dan sulit dilukiskan.
Hingga akhirnya, kabar itu datang: saya dinyatakan lolos.
Perjalanan kami pun dimulai, menuju Desa Sali-Sali, sebuah wilayah terpencil di Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, dalam rangka kegiatan Bintang (Berbagi Ceria di Hari Pendidikan untuk Masa Depan Gemilang) 2026 Goes to Sali-Sali yang diselenggarakan oleh Lembaga Sahabat KITA pada 30 April hingga 3 Mei 2026.
Untuk sampai ke sana, kami harus melewati jalan berliku, menembus medan yang menantang, serta menempuh perjalanan panjang yang menguras tenaga. Namun setiap kilometer yang dilalui seolah menjadi pengingat bahwa pengabdian memang menuntut kesungguhan.
Setibanya di Sali-Sali, rasa lelah seketika terbayar.
Desa ini menyuguhkan panorama alam yang memikat—hamparan pegunungan hijau, udara yang sejuk dan bersih, serta suasana yang menenangkan jiwa. Namun lebih dari itu, Sali-Sali menyimpan kekayaan yang jauh lebih berharga: masyarakatnya.
Warga menyambut kami dengan senyum hangat, sapaan tulus, dan keramahan yang apa adanya. Dalam kesederhanaan, mereka menghadirkan kehangatan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Sebagai relawan, kami hadir untuk berbagi dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Di tengah keterbatasan sarana, kami justru menemukan semangat belajar anak-anak yang luar biasa. Mereka datang dengan wajah penuh antusias, mata berbinar, dan keinginan kuat untuk mengenal dunia yang lebih luas.
Setiap tawa, setiap pertanyaan polos, menjadi pengingat bahwa harapan selalu tumbuh—bahkan di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota.
Interaksi dengan masyarakat membuka ruang refleksi yang mendalam. Saya belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari kelimpahan materi, melainkan dari rasa cukup, kebersamaan, dan kepedulian. Di desa ini, nilai gotong royong masih hidup, dan rasa saling memiliki begitu terasa.
Perjalanan ini bukan sekadar pengalaman, melainkan sebuah titik balik.
Menjadi Relawan Bintang mengajarkan bahwa memberi bukan tentang seberapa besar yang kita punya, tetapi tentang ketulusan untuk berbagi.
Sali-Sali bukan hanya destinasi pengabdian, melainkan ruang belajar kehidupan—tempat saya menemukan makna baru tentang arti hadir bagi sesama.
Dari desa kecil di Lembang ini, saya menyadari satu hal:
cahaya perubahan tidak harus datang dari tempat yang besar. Ia bisa lahir dari langkah kecil, dari kepedulian yang sederhana, dan dari keberanian untuk memulai.
Sali-Sali telah menyalakan asa itu.
Dan bagi saya, ini baru permulaan. 🌟

.jpeg)
