Artikel

PERJALANAN MENUJU SALI-SALI BUKAN SEKADAR PERJALANAN FISIK, TAPI JUGA PERJALANAN MAKNA

Mei 05, 2026
PERJALANAN MENUJU SALI-SALI BUKAN SEKADAR PERJALANAN FISIK, TAPI JUGA PERJALANAN MAKNA


Mendidik Adalah Menerangi

Tanggal 2 Mei selalu hadir sebagai pengingat: pendidikan adalah hak, bukan privilese. Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ruang refleksi—tentang sejauh mana bangsa ini benar-benar menghadirkan keadilan bagi setiap anak untuk belajar, tumbuh, dan bermimpi.

Namun, di balik gema peringatan nasional, masih ada wajah-wajah kecil di pelosok negeri yang belajar dalam keterbatasan. Mereka tumbuh di lereng-lereng gunung, jauh dari akses yang layak, tetapi menyimpan mimpi yang tak kalah besar dari anak-anak di kota.

Di titik inilah, relawan hadir.

Bukan sebagai pahlawan, tetapi sebagai saudara.
Bukan membawa kehebatan, tetapi membawa kepedulian.

Semangat itulah yang menghidupkan puncak bukit Desa Sali-Sali, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan—ketika ratusan anak sekolah dasar bertemu dengan para relawan muda dalam sebuah perjumpaan yang sederhana, namun penuh makna.

Bintang di Atas Awan

Program “Bintang Goes to Sali-Sali” merupakan inisiatif dari Lembaga Sahabat KITA—sebuah gerakan sosial yang lahir dari keyakinan bahwa setiap anak berhak atas pendidikan, kesehatan, pengalaman, dan inspirasi, tanpa terkecuali.

Desa Sali-Sali berada di ketinggian sekitar 1.600 mdpl. Akses menuju ke sana tidak mudah. Jalanan terjal, berbatu, bahkan berlumpur menjadi bagian dari perjalanan. Namun di balik itu, tersimpan potensi besar—yang selama ini belum sepenuhnya tersentuh, terutama dalam bidang pendidikan dan pemberdayaan generasi muda.

Pada 30 April hingga 3 Mei 2026, para relawan menapaki perjalanan menuju desa ini. Mereka datang bukan hanya membawa program, tetapi juga membawa niat dan ketulusan: menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.

Momentum paling menggetarkan hadir saat upacara Hari Pendidikan Nasional dilaksanakan di halaman sekolah sederhana di puncak bukit itu.

Di tengah keterbatasan, setiap bait Pembukaan UUD 1945 terasa begitu hidup.

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Kalimat itu menggema—tidak hanya di udara, tetapi juga di dalam hati.

Muncul pertanyaan yang sulit dihindari:
Sudah adilkah pendidikan di negeri ini?

Ketika anak-anak harus berjalan jauh melewati lereng gunung, menyeberang sungai, dan menantang medan demi bersekolah—sementara akses kesehatan dan infrastruktur masih terbatas—apakah ini yang disebut merdeka?

Pertanyaan itu tidak mudah dijawab.

Namun, di tengah kegelisahan itu, lahir satu keyakinan sederhana:

Daripada menunggu perubahan besar, mengapa tidak memulai dari langkah kecil?

Menjadi relawan.
Menjadi bagian dari harapan.
Menjadi cahaya, meski kecil.

“Kita mungkin tidak bisa mengubah seluruh dunia hari ini, tapi kita bisa mengubah dunia seorang anak.”

Dan dari sanalah, perubahan itu dimulai.

Apa yang Terjadi di Sana?

Hari itu, Sali-Sali terasa berbeda.

Puluhan siswa dari empat sekolah dasar berkumpul di lapangan terbuka, mengenakan seragam merah-putih. Di belakang mereka, hamparan pegunungan hijau berdiri megah, seolah menjadi saksi bisu semangat yang tumbuh.

Langit mendung menggantung, tetapi suasana justru hangat.

Ada tawa.
Ada rasa ingin tahu.
Ada semangat yang menyala.

Sebagian anak berlarian, sebagian berbaris rapi, sebagian lagi menatap penuh antusias kepada kakak-kakak relawan yang hadir.

Di sinilah pendidikan menemukan maknanya yang paling jujur:
bukan sekadar ruang kelas, tetapi pengalaman, interaksi, dan harapan.

“Pendidikan bukan hanya tentang mengisi ember kosong, tetapi tentang menyalakan api yang tidak pernah padam.” — William Butler Yeats

Dan hari itu, api itu benar-benar dinyalakan.

“Bintang paling terang bukan yang paling dekat, tetapi yang paling berani bersinar di kegelapan. Anak-anak Sali-Sali adalah bintang-bintang itu—dan tugas kita adalah memastikan cahaya mereka tidak pernah padam.”

Satu Langkah, Seribu Harapan

“Bintang Goes to Sali-Sali” bukan sekadar kegiatan. Ia adalah bukti bahwa semangat Hari Pendidikan Nasional tidak berhenti pada pidato dan upacara.

Ia hidup dalam langkah kaki yang mendaki bukit.
Ia hadir dalam senyum anak-anak yang merasa diperhatikan.
Ia tumbuh dalam setiap ilmu yang dibagikan dengan tulus.

Hari Pendidikan Nasional 2026 menjadi pengingat bagi kita semua:

Apa yang sudah kita lakukan untuk pendidikan?
Sudahkah kita menjadi bagian dari solusi?

Karena pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak dibangun dari wacana—melainkan dari generasi muda yang terdidik, yang dicintai, dan yang percaya bahwa mereka bisa bermimpi setinggi langit.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026

Dari Sali-Sali untuk Indonesia
Terus Belajar, Terus Berbagi, Terus Bersinar.




Baca Juga