Artikel

Cita dan Cinta ku ada di Sali-sali

Mei 05, 2026
Cita dan Cinta ku ada di Sali-sali

Camping Ceria yang dimana acara tersebut bagian dari divisi yang saya pilih. Alhamdulillah apa yang saya inginkan bisa terealisasikan, bertemu langsung dengan anak-anak yang ramah, lucu, dan antusiasnya luar biasa. Pemandangan yang tidak pernah saya temukan di kota, justru saya temukan di Desa Sali-sali, bukan mereka yang belajar dari saya, tapi saya yang belajar banyak dari mereka. Saat pagi saya yang datang dengan berpakaian rapih harus bercampur dan berbaur dengan lumpur di jalanan dan lumpur itu menempel di sepatu dan ujung pakaian gamis saya. Saya yang sedikit tidak suka kotor, harus berbaur dengan hal tersebut. 

"Buat apa bersih kalau kesempatan ini terlewatkan? itukan masih bisa dibersihkan sedangkan momen bersama mereka tidak akan pernah bisa terulang lagi Nurul!." Kurang lebih itu yang saya sampaikan kepada diri saya. 

Percakapan yang tak biasa

Pagi berganti siang, siang berganti malam, selama acara tidak ada satupun yang saya lihat dari mereka rasa mengantuk. Semuanya antusias mengikuti rangkaian kegiatan, lalu mendengarkan para kakak-kakak inspiratif dari berbagai profesi, sampai acara pentas seni di malam hari. Di sela-sela acara pentas seni, saya sedang duduk dengan salah satu anak bimbingan saya dari Tim Semangat dibelakang kerumunan para penonton, namanya Arpel dia kelas 5 SD saya penasaran dengan kesehariannya berangkat ke sekolah. 

"Arpel, rumahnya yang bagian mana?"

"Jauh kak, di atas sana lagi." Dengan ekspresi menunjuk jalanan dibalik gunung di depan kami. 

"Hmm, kalau ke sekolah diantar atau?" Belum selesai saya bertanya dia langsung menjawab. 

"Biasa diantar sama kakak, karena kakak sudah SMP jadi saya ikut kalau pagi, kalau pulang sekolah jalan kaki sama teman-teman." 

"Waaah, jalan kaki? Setiap hari begitu arpel?" saya menanggapi dengan nada kaget, lalu ia mengangguk kemudian saya lanjut lagi bertanya. 

"Lalu uang jajannya ada? Berapa biasa uang jajannya?" 

"Dikasih, biasa ada 5.000., biasa juga cuma 3.000.,"

Ya Allah, seketika air mataku ingin keluar sambil menatap wajahnya yang lugu itu, saya menahannya, beristigfar, dan saya sesekali mengusap punggungnya, bukan menenangkan dia tapi bangga dengannya. Ditengah keramaian justru hati ini dihadiri rasa haru oleh cerita Arpel, anak usia 11 tahun itu yang menceritakan perjalananya menuju sekolah SD 304 Tondo Tua.  

Waktu semakin larut, kemudian tiba saatnya penampilan yel-yel dari mereka, saya pikir mereka semua sudah mengantuk tapi ternyata belum sama sekali. Gio sang anak laki-laki yang menjadi pemimpin upacara saat upacara Hardiknas dan pembukaan acara camping ceria, matanya merah dan nampak menahan ngantuknya. Tapi karena ingin tampil jadi dia harus tetap semangat. Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba, mereka tampil dengan ceria dan energik. 

Dingin yang menusuk kalbu

Setelah acara selesai semua anak istirahat di ruang kelas dengan beralaskan tikar yang sederhana yang mereka bawa dari rumah, saya pun juga ikut berbaring di sana bersama mereka. Dengan cemas-cemas harap, karena saya sangat tidak bisa menahan dinginnya cuaca di waktu subuh apalagi ini hanya setipis tikar. Tapi saya tetap berbaur dengan anak-anak perempuan di ruangan itu dengan modal jaket dan satu sarung bali. Sesekali saya memeluk anak perempuan yang saya temani tidur saking dinginnya. 

Subuh telah tiba, semua anak bangun dan segera melaksanakan sholat subuh berjamaah, hanya ada 5 anak laki-laki yang muslim saat itu. Saya bingung menentukan siapa yang akan menjadi imam sholat, ketika kebingungan itu hadir teman-teman perempuannya menyodorkan satu nama yaitu Adong, sambil mencari-cari yang mana namanya Adong, lalu sontak ia mengatakan seperti ini, 

"Suara ku sereg kak, jelek di dengarnya." 

Ooo ternyata dia yang dinamakan Adong, anak cakep yang dari waktu pagi tanggal 2 saya perhatikan sangat teduh wajahnya. Lalu saya sedikit memotivasinya, 

"Kakak pikir itu bukan masalah utamanya deh, yang jelas kamu mau jadi pemimpin sholat."lalu ia mengangguk. Akhirnya mereka sholat berjamaah saat subuh dengan suara Adong yang sereg itu. 

Setelah sholat saya bertanya ke Adong, 

"De, nanti kalau SMP mau lanjut dimana? Mau lanjut di pesantren yang di Polman."

Waah ternyata tepat tebakan saya, anak ini punya bakat jadi Da'i/ustadz. 

"Jadi cita-citanya pengen jadi ustadz yah?" Tanyaku ke dia dan ternyata benar. 

"Iya kak, InsyaAllah."

Introspeksi diri

Hati ini sekali lagi terpesona oleh mereka, saya pernah diusia mereka, seketika saya kembali ke masa kecil saya yang menuliskan cita-cita ingin menjadi Guru. Alhamdulillah dengan kuasa Allah dan cinta-Nya saya sekarang berprofesi itu. Mulai dari perjalanan Bintang ini saya belajar tentang Cintanya Allah padaku, lagi dan lagi, ini bukan pertama kalinya Allah memberikan Cinta-Nya padaku. Dipertemukan dengan kakak-kakak relawan yang hebat-hebat, masyarakat yang luar biasa ramahnya, dan kekeluargaannya nyata sekali, serta anak-anak yang baik hati dan ceria. Saya semakin Cinta dengan pemilik hatiku, bagaimana mungkin saya mengabaikannya untuk tidak tunduk dengan aturan yang sudah Dia perintahkan untuk kita para khalifah di muka bumi. 

Ketika kita dipertemukan dengan kenikmatan fasilitas yang memadai di kota mulai dari kecil sampai saat ini itu adalah sebuah anugrah yang sangat luar biasa, itulah yang saya rasakan selama hidup ini ketika menjalani pendidikan. Kesusahan dan jerih payah yang saya alami tidak sebanding dengan mereka yang ada di desa Sali-sali. Karena setiap manusia punya cerita cita-cita dan cintanya Masing-masing. Saya sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan mereka. Karena Saya banyak belajar dari anak-anak peserta camping ceria, ibu-ibu dan masyarakatnya di sana. Bahwa keterbatasan fasilitas bukan berarti hambatan untuk bisa mencapai tujuan hidup yang penuh lika liku dan cita-cita yang ingin diraih dengan penuh kasih sayang dan Cinta-Nya. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

(QS. Ar-Rahman 55: Ayat 13)






Baca Juga