BINTANG dan Sahabat KITA adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan dalam hidupku. Aku mengenal BINTANG karena founder Sahabat KITA adalah sahabatku sendiri, Kak Niar—teman seperjalanan sejak SD, SMP, hingga SMA. Sosok yang penuh energi, hangat, dan tak pernah lelah mengajak orang lain untuk berbuat baik.
Di dalam Sahabat KITA, ada juga kakak-kakak luar biasa lainnya seperti Kak Ichal, Kak Ifa, dan Kak Indra. Mereka semua adalah sahabat-sahabatku di bangku sekolah. Profesi mereka kini berbeda-beda, tetapi itu tidak pernah menjadi batas untuk terus bergerak dalam kerja-kerja kerelawanan demi pendidikan yang lebih baik. Dari dulu, dalam hati kecilku, aku selalu ingin menjadi bagian dari itu.
Aku pernah mengantarkan anakku mengikuti kegiatan “Jumat Ceria,” salah satu program rutin Sahabat KITA. Sementara itu, BINTANG (Berbagi Ceria di Hari Pendidikan untuk Masa Depan Gemilang) adalah kegiatan tahunan yang selalu hadir dalam momentum Hari Pendidikan Nasional.
Dua tahun lalu, hatiku mulai benar-benar tergerak untuk ikut. Postingan-postingan Kak Niar dan Kak Ifa semakin menguatkan keinginan itu. Setiap kali bertemu, Kak Niar juga tak pernah berhenti mengajakku bergabung. Namun, tahun 2024 aku harus mengubur niat itu karena terkena cacar. Aku hanya bisa berkata dalam hati, “InsyaAllah, masih ada tahun depan.”
Setahun berlalu, kesempatan itu datang lagi. Tapi kali ini, aku dan almarhum suami sama-sama jatuh sakit. Lagi-lagi, aku belum berjodoh dengan BINTANG.
Hingga akhirnya, tahun ini, Alhamdulillah aku dinyatakan lulus sebagai relawan. Rasa bahagia itu luar biasa. Namun, ujian kembali datang menjelang keberangkatan—kedua anakku jatuh sakit. Sebagai seorang ibu, keputusan ini tidak mudah. Hati terasa berat meninggalkan mereka dalam kondisi seperti itu.
Namun, panggilan hati tak bisa dibohongi. Dengan penuh doa, aku memutuskan tetap berangkat. Aku percaya, jika niat ini benar-benar tulus, Allah akan memudahkan segalanya. Anak-anakku pun kutitipkan kepada keluarga.
Perjalanan yang Penuh Cerita
Hari Kamis, 30 April 2026, perjalanan kami dimulai. Dari Cafe Exotico, di bawah terik matahari yang seakan berada di puncak semangatnya, kami berkumpul dengan energi yang luar biasa. Panas tidak sedikit pun mengurangi semangat para relawan.
Perjalanan menuju Sali-Sali bukan sekadar perjalanan fisik, tapi juga perjalanan makna.
Di sepanjang jalan, banyak kejadian kecil yang justru menjadi kenangan besar. Tawa pecah saat salah satu teman kakinya terjepit kursi. Spontan aku bercanda, “Bassang mi itu kakinya, mau dikasih pabbura bassang?” Sejak saat itu, aku mendapat julukan “sanro pabbura bassang.”
Belum lagi momen menegangkan saat hampir saja nasu palekko yang kami bawa tumpah karena tanjakan ekstrem. Untungnya, berhasil diselamatkan. Semua terasa seperti potongan cerita yang sengaja disusun untuk dikenang.
Tantangan sesungguhnya datang ketika kendaraan tidak lagi mampu melanjutkan perjalanan. Kami harus berjalan kaki. Namun anehnya, tak ada keluhan. Justru yang ada adalah tawa, foto-foto, dan kebersamaan yang terasa sangat hidup.
Hujan, Makam, dan Malam Jumat
Di tengah perjalanan, hujan tiba-tiba turun. Kami terpaksa berteduh di sebuah makam. Suasana mendadak hening. Saat itu, aku baru tersadar—hari itu adalah malam Jumat.
Kami saling melirik, antara takut dan mencoba menertawakan keadaan. Momen yang terasa menegangkan, tapi kini justru jadi cerita lucu yang tak terlupakan.
Sambutan Hangat dari Sali-Sali
Setelah hujan reda, perjalanan dilanjutkan. Menjelang magrib, kami melihat cahaya dari kejauhan. Ternyata, para pemuda Sali-Sali datang menjemput kami.
Rasa haru dan lega bercampur jadi satu.
Di tengah perjalanan bersama mereka, ada satu momen yang paling menggelikan bagiku. Aku lebih memilih memeluk erat nasu palekko daripada berpegangan pada pemuda yang menuntunku. Keputusan yang mungkin terdengar aneh, tapi saat itu terasa sangat penting.
Cerita itu menjadi bahan tawa saat kami akhirnya tiba, membersihkan diri, dan beristirahat.
Belajar dari Orang-Orang Hebat
Selama tiga malam, aku menjadi “penghuni teras” bersama Kak Aini—partnerku yang pendiam, tapi luar biasa. Ia tidak banyak bicara, tapi selalu menyelesaikan tugas dengan cepat dan tepat. Dari dia, aku belajar bahwa kerja keras tidak selalu harus terdengar.
Di Sali-Sali, aku juga dipertemukan kembali dengan sahabat lamaku yang kini menjadi guru di sana—yang kupanggil Ibu Guru Ana. Sosok yang benar-benar membuatku terdiam.
Di usia kandungan 9 bulan, ia tetap mengajar. Ia harus bolak-balik ke Pinrang, jauh dari anak dan suaminya. Namun, ia tetap tersenyum.
Melihatnya, aku merasa seperti ditampar. Aku yang mengajar di kota, dengan fasilitas lengkap, masih sering mengeluh. Sementara dia, dengan segala keterbatasan, tetap bertahan dengan penuh keteguhan.
Ia adalah definisi nyata dari perempuan hebat.
Makna yang Dibawa Pulang
Kegiatan BINTANG benar-benar membuka mataku. Tentang kebersamaan yang tulus, kerja sama tanpa pamrih, dan arti berbagi yang sesungguhnya.
Masyarakat yang antusias, anak-anak yang penuh tawa, serta pemuda dan tokoh desa yang terlibat—semuanya menciptakan pengalaman yang tak tergantikan.
Aku juga belajar tentang mengontrol diri. Pesan sederhana dari Kak Ichal terus terngiang, “Rasma, ingat yah.” Perlahan aku belajar, meski tidak mudah.
Bahkan di tengah godaan untuk bernyanyi dan bergoyang saat musik mengalun keras, aku mencoba tetap fokus menjaga “kotak” dan menemani adik-adik yang datang. Meski… kaki ini kadang masih ikut bergoyang sedikit.
Terima kasih, kakak-kakak BINTANG, atas kesempatan berharga ini.
Terima kasih, Desa Sali-Sali, atas pelajaran hidup yang tak ternilai.
Empat hari tiga malam di sana bukan sekadar perjalanan. Ini adalah titik perubahan.
Sebuah pengingat sederhana—
masih pantaskah aku mengeluh,
ketika mereka di sana tetap mampu tersenyum?
